Selasa, 02 Februari 2010

AL QURAN KITAB DAKWAH

Oleh : Ustadz Drs. H. Ainul Yaqin

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَـذَا الْقُرْآنِ لِيَذَّكَّرُواْ وَمَا يَزِيدُهُمْ إِلاَّ نُفُوراً
(Dan sesungguhnya dalam Al Qur'an ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)).

Dari surat al-Isro' ayat 41 tersebut diatas Alloh menjelaskan bahwa dalam al-Quran Alloh sering mengulang-ulang nasihatnya karena memang itu merupakan peringatan kepada manusia agar selalu ingat kepadaNya. Pada ayat-ayat al-Quran memang sering kita jumpai ayat-ayat yang sama dan diulang-ulang beberapa kali, hal ini memang menunjukkan bahwa sifat manusia itu susah untuk dikendalikan sehingga perlu diberikan nasihat dan peringatan agar mereka tidak lari dari kebenaran.

Disinilah yang kita katakan bahwa Al Quran merupakan kitab dakwah, yang mengajak manusia kepada kebaikan. Manusia banyak yang lupa (nisyan dalam menjalankan dakwah) oleh karena itu gaya bahasanya dan ayat-ayat sering di ulang-ulang. Misalnya tentang dakwah para nabi, mulai nabi Adam, Nuh, Hud Idris, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad SAW. Mengapa hal ini terjadi, ibarat orang tua yang menasehati anak-anaknya secara berulang-ulang. Banyak anak yang tak menggubris titah dan perintah orang tuanya. Apalagi dengan orang kafir ketika mereka disentuh dan diajak dan dinasehati untuk mengikuti perintah, mereka malah bergegas lari seakan-akan meninggalkan sesuatu. Mereka ada kemusykilan dan tak mau menerima sesuatu. Mereka selalu mencela zaman jika menjalankan perintah yang tak cocok dengan keinginan dirinya. Zaman atau lingkungan dipakai sebagai alasan untuk tidak mau menjalankan perintah menuju kebaikan. Dan banyak manusia yang tak mau bersyukur mengorbankan dirinya dan bersedekah untuk dirinya, padahal, misalnya, mereka punya tubuh itu terdiri dari 360 ruas tulangnya, padahal Rosul memerintahkan untuk sholat dhuha sebagai bentuk shodaqoh akan dirinya. Ia malah lalai tak menggunakan kesempatan waktunya. Padahal semua yang dia lakukan akan kembali kepada dirinya.

Sanggahan terhadap orang yang mempersekutukan Alloh SWT. Mereka orang-orang musyrik tak akan bisa mengelak dari sebuah kekuasaan Alloh, karena tuhan-tuhan mereka akan kembali kepada Tuhan yang mempunyai Arasy, Alloh maha suci dari apa yang mereka katakan, sebagaimana firman Alloh pada ayat berikutnya surat al-Isro' ayat 42-43 :

قُل لَّوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذاً لاَّبْتَغَوْاْ إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلاً
(Katakanlah: "Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai 'Arsy").

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوّاً كَبِيراً
(Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya).

Selain itu kita diingatkan juga tentang bagaimana sikap diri kita bahkan terhadap kulit kita sendiripun seperti yang Alloh firmankan, dimana kulit kita akan berkata dengan sendirinya untuk bersaksi tentang bagaimana kesaksiannya terhadap diri kita, sebagaimana bisa kita lihat pada surat Fussilat ayat 21 :

وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
(Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Alloh yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan").

Tidak ada alasan bagi kita manusia untuk tidak mengingat Alloh bahkan semua yang ada dilangit dan dibumi ini tidak henti-hentinya selalu bertasbih kepada Alloh yang mempunyai dan bersemayam diatas Arasy dengan bahasanya masing-masing. Kita tak mengerti cara tasbih makhluk-makhluk Alloh tersebut. Hanya Alloh lah yang mengetahui tasbih mereka, sepeerti pada ayat berikutnya surat al-Isro' ayat 44 :

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ وَلَـكِن لاَّ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيماً غَفُوراً
(Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Alloh. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun).

Pada ayat berikutnya dijelaskan bahwa Al Quran akan menjadi penghalang antara orang beriman dan orang kafir terhadap kehidupan akhirat ketika al Quran itu dibacakan oleh Rosululloh, al Isro' 45 :

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَاباً مَّسْتُوراً
(Dan apabila kamu membaca Al Qur'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup),

Sikap Orang Kafir terhadap Al Qur’an ketika mereka diingatkan, tiada lain kecuali mereka menentang dan tak mau menerima Al Qur’an. Alloh menjadikan di telinga mereka tutup-tutup. Mereka sudah Alloh tutup mata, hati, pendengarannya. Bahkan mereka lebih senang untuk menghindarinya. Maka jauhlah sebuah petunjuk bagi dirinya, dia tak akan mampu menyinari dengan cahaya Alloh untuk dirinya, keluarganya dan ummat manusia, seperti pada surat al Isro' ayat 46 :

وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْراً وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْاْ عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُوراً
(dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya),

Dan pada ayat berikutnya Alloh maha mengetahui terhadap perbincangan dan bisik-bisik orang kafir dan zhalim, karena mereka sudah tak mampu menerima terhadap apa yang disampaikan Rosululloh, bahkan mereka menganggap Rosul itu sebagai tukang sihir, seperti surat al Isro' ayat 47 :

نَّحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَسْتَمِعُونَ بِهِ إِذْ يَسْتَمِعُونَ إِلَيْكَ وَإِذْ هُمْ نَجْوَى إِذْ يَقُولُ الظَّالِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلاَّ رَجُلاً مَّسْحُوراً
(Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata: "Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir").

(Arifie-Deden)
BACA SELENGKAPNYA...

Minggu, 31 Januari 2010

JANGAN TAKLID

Oleh : Ustadz Drs H Ainul Yaqin

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
(Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya)al-Isro' ayat 36.

Dalam ayat tersebut kita tidak diperbolehkan beramal kecuali sudah mengetahui ilmunya atau biasa disebut dengan taklid buta atau janganlah engkau berbuat mengikuti yang tidak berdasarkan ilmu pengetahuan misalnya dalam berucap, kecuali yang kita ketahui. Hal ini disebabkan karenapendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan ditanyai dan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Alloh subhanahu wa ta'ala. Oleh karena itu menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim, jangan berbuat amal sebelum mengetahui ilmunya dan jangan mengikuti kebanyakan orang namun beramallah berdasarkan dalil dan rujukannya.

Larangan Alloh tersebut juga meliputi pendengaran dimana kita tidak diperbolehkan mendengarkan hal-hal yang membuat Alloh murka. Dalam hal mendengar, orang tidak boleh untuk langsung mempercayai akan sesuatu yang didengarnya, apalagi langsung menyampaikan kepada orang lain sebelum mengetahui atau menguji akan kebenarannya.
Alat dan potensi yang Alloh berikan dalam memperoleh ilmu pengetahuan, misal ketika bayi lahir yang berfungsi awal untuk merespon dari luar adalah dengan pendengaran, baru kemudian mata dan berikutnya adalah hati. Ketiga organ yang disebutkan Alloh tersebut sangat berpengaruh pada proses pembentukan manusia, oleh karena itu marilah benar-benar kita jaga guna menghadapi pertanggung jawaban dihari akhir kelak.

Dan pada ayat berikutnya Alloh berfirman mengenai larangan untuk berbuat sombong dimana hal ini berkaitan dengan sifat manusia yang dikendalikan oleh hatinya sebagaimana surat al-Isro' ayat 37 :

وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً
(Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung).

Dan Alloh sangat murka atas orang-orang yang berbuat sombong diatas bumi ini karena apalah arti kesombongan itu disisi Alloh, tiada berguna kita berbuat kesombongan sampai-sampai Alloh menantangnya apakah kalian bisa menembus bumi dan setinggi gunung?. Dan kemurkaan Alloh tersebut telah dijelaskan dalam ayat berikut, al-Isro' ayat 38 :

كُلُّ ذَلِكَ كَانَ سَيٍّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهاً
(Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu).

Sekali lagi marilah kita jaga hati kita dari rasa sombong, takabbur, dengki, dan durhaka kepada orang tua yang dapat menyebabkan kemurkaan Alloh

(Arifie - Deden)
BACA SELENGKAPNYA...

Kamis, 21 Januari 2010

JAUHI HARTA ANAK YATIM

Oleh : Ustadz Drs H. Ainul Yaqin
 
Harta dan jiwa dalam Islam menjadi penekanan yang perlu diberikan perhatian khusus, terutama harta yang digunakan untuk berjihad dan dalam menyelamatkan jiwanya. Demikian juga dalam memelihara atau mengelola anak yatim, baik dirumah tangga maupun dipanti asuhan.

Seperti kita ketahui yang disebut anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal mati oleh ayahnya sebelum baligh. Mengurus anak yatim dan memberdayakan hartanya harus sesuai dengan kehendak Alloh, karena barang siapa yang memakan dan mensalah-gunakan harta anak yatim bahkan dengan semena-mena maka bersiap-siaplah dia untuk diisi perutnya dengan api neraka. Peraturan Alloh dalam bahasa al Qur’an hendaklah dengan billati hiya ahsan.

Didiklah anak yatim sampai mereka dewasa dan pandai mengelola hartanya sendiri, kemudian serahkan harta itu tetapi jangan tergesa-gesa. Dan jika orang yang mengurus anak yatim itu miskin maka dia boleh mengambil sebagian harta anak yatim itu sebagai upah dan tidak melampaui batas, atauboleh dia menginvestasikannya dan mengambil bagian dari hasilnya, hal ini sesuai dengan firman Alloh dalam surat al-Nisa ayat 5-6 :

وَلاَ تُؤْتُواْ السُّفَهَاء أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللّهُ لَكُمْ قِيَاماً وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُواْ لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفاً  
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya , harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Alloh sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.
 
وَابْتَلُواْ الْيَتَامَى حَتَّىَ إِذَا بَلَغُواْ النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْداً فَادْفَعُواْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلاَ تَأْكُلُوهَا إِسْرَافاً وَبِدَاراً أَن يَكْبَرُواْ وَمَن كَانَ غَنِيّاً فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيراً فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُواْ عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللّهِ حَسِيباً
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).

Alloh mengarahkan bagaimana mengelola mereka dengan baik dan bagaimana mengelola harta anak yatim ini, dan perlakukanlah anak yatim sebagaimana engkau mendidik anakmu dan bergaullah seperti bergaul terhadap saudaramu, lihat al-Qur'an surat al Baqoroh ayat 220.

 فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلاَحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ وَلَوْ شَاء اللّهُ لأعْنَتَكُمْ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Alloh mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Alloh menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dalam mengasuh dan mengasihi anak yatim ada  yayasan yang memberdayakan dengan cara mendirikan mereka kios, mereka diberi kepercayaan mengelola  harta yang mereka miliki. Jangan mengambil anak yatim untuk dijadikan pembantu, namun perlakukanlah mereka seperti anak sendiri dengan cara mendidik yang baik sebagaimana peringatan Alloh dalam surat al-Ma'un ayat 1-2:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
Itulah orang yang menghardik anak yatim,

dan Adh-Dhuha ayat 6:
 أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيماً فَآوَى
 Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu ?
 
Arifie - Deden
BACA SELENGKAPNYA...

Sabtu, 16 Januari 2010

ZINA BERAKIBAT PEMBUNUHAN.

oleh : Ustadz Drs Ainul Yaqin


وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.(al Isro' ayat 32)

Dalam ayat ini Allah selalu mengingatkan akan pentingnya sebuah aturan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya yang menyangkut tentang harga diri dan kehormatan. Ayat ini menjadikan acuan mengapa Allah mengharamkan zina dan menghalalkan nikah. Larangan perzinahan ini karena sebelumnya terjadi pembunuhan terhadap anak perempuan, karena sebelumnya mereka takut ada pemerkosaan terhadap anak perempuan tadi dan inilah latar belakang turunnya ayat ini.
Ada beberapa perilaku yang mengantarkan seseorang kepada perzinahan Khalwath (berdua-duaan), cium-ciuman. Perzinahan adalah penempatan sperma pada yang bukan haknya. Perzinahan merupakan pendorong terhadap pembunuhan janin atau pengguguran kandungan. Ada beberapa pengaruh ketika orang sudah melakukan perzinahan sebagaimana yang dikatakan oleh Sayid Qutb dalam tafsir Fi Dzilalil Qur’an antara lain : Seorang yang melakukan perzinahan , dia telah membunuh kehormatan dirinya karena ia tak bertanggung jawab, setelah itu akan melahirkan pembunuhan lain yaitu pebunuhan karakter , dia telah membunuh kehormatan keluarga, kehormatan agama-nya dan dia telah membunuh bangsanya dan martabatnya jatuh tersungkur di hadapan manusia. Seseorang yang serong di Rumah tangga akan mengakibatkan ketidak harmonisan dan anak-anaknya akan semakin rapuh. Inilah bentuk pembunuhan disengaja yang dilakukan oleh pelaku zina. Pelaku zian ada 2 yaitu : mukhson dan ghir mukhson. Setiap pelaku dosa ini dihukum qishosh karena telah merusak maqashidus-syariah : Hifdzul Din ( menjaga agama), Hifdzul nafs ( menajga diri ), hifdzul maal ( menjaga harta ), hifdzul nasab ( menjaga keturunan) dan hifdzul aql ( menjaga akal).

Rabu, 6 januari 2010 M / 20 Muharam 1431 H.
BACA SELENGKAPNYA...

close
marketing-mobil-wuling